TRIMATRANews | PASAMAN, 8 Juli 2026 — Harapan keluarga untuk segera menemukan Haikal, balita berusia 3,5 tahun yang diduga hanyut di aliran sungai di Jorong 7 Saroha, Nagari Koto Tapan, Kecamatan Rao Utara, Kabupaten Pasaman, masih belum terwujud. Memasuki hari keempat pencarian pada Rabu (8/7/2026), tim SAR gabungan belum menemukan tanda-tanda keberadaan korban meski berbagai upaya penyisiran telah dilakukan sejak pagi hingga sore hari.
Pencarian yang dikoordinasikan Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Padang melalui Pos SAR Pasaman dimulai pukul 07.30 WIB. Petugas menyisir sejumlah titik di sepanjang aliran sungai yang diperkirakan menjadi jalur hanyutnya korban. Area pencarian mencakup sekitar tiga kilometer dan dibagi menjadi dua Search and Rescue Unit (SRU) agar proses penyisiran dapat berjalan lebih terarah dan menjangkau lokasi yang telah ditentukan.
Dalam operasi tersebut, tim gabungan mengombinasikan pencarian melalui jalur darat dan sungai. Petugas dikerahkan untuk memeriksa sejumlah titik yang dinilai berpotensi menjadi lokasi korban, sementara perahu karet atau Landing Craft Rubber (LCR) digunakan untuk membantu penyisiran di aliran sungai. Selain itu, drone thermal turut dimanfaatkan sebagai perangkat pendukung untuk membantu pengamatan dari udara di tengah upaya menemukan balita tersebut.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Padang, Abdul Malik, mengatakan seluruh personel terus berupaya mengoptimalkan pencarian dengan berbagai metode yang tersedia. Menurutnya, setiap sektor diperiksa secara bertahap melalui penyisiran langsung di lapangan maupun dengan bantuan peralatan pendukung. Upaya tersebut dilakukan untuk memperbesar peluang menemukan Haikal, yang telah dilaporkan hilang sejak Sabtu (4/7/2026).
Meski pencarian berlangsung selama berjam-jam, hasil operasi hingga pukul 18.00 WIB masih nihil. Setelah mempertimbangkan waktu pelaksanaan dan hasil evaluasi di lapangan, operasi SAR hari keempat akhirnya dihentikan sementara. Tim dijadwalkan kembali melanjutkan pencarian pada Kamis (9/7/2026) mulai pukul 07.30 WIB, dengan rencana mengevaluasi sektor sebelumnya dan memperluas area penyisiran sesuai kebutuhan.
Abdul Malik menyampaikan bahwa pencarian berikutnya akan tetap mengedepankan koordinasi antarpersonel serta pemanfaatan peralatan yang tersedia. Evaluasi terhadap hasil operasi sebelumnya menjadi bagian penting untuk menentukan langkah lanjutan, termasuk mengidentifikasi titik yang perlu diperiksa kembali. Ia berharap keberadaan Haikal segera diketahui dan meminta masyarakat yang berada di sekitar lokasi agar segera menyampaikan informasi kepada petugas apabila menemukan petunjuk yang berkaitan dengan korban.
Peristiwa yang menimpa Haikal bermula pada Sabtu (4/7/2026) sekitar pukul 16.00 WIB. Berdasarkan informasi yang dihimpun, saat itu korban sedang bermain di area persawahan yang tidak jauh dari rumahnya. Sementara itu, kedua orang tuanya tengah melakukan aktivitas rumah tangga, yakni memasak dan mencuci piring. Situasi tersebut kemudian berubah menjadi kepanikan ketika orang tuanya menyadari Haikal sudah tidak berada di tempat ia bermain.
Setelah menyelesaikan aktivitas, orang tua korban berusaha mencari Haikal di sekitar lokasi, tetapi keberadaannya tidak kunjung diketahui. Aliran sungai yang berada tidak jauh dari area persawahan kemudian menimbulkan dugaan bahwa balita tersebut mungkin terbawa arus. Meski demikian, hingga hari keempat operasi berlangsung, dugaan tersebut belum dapat dipastikan melalui penemuan korban.
Warga setempat bersama pemerintah nagari telah berupaya melakukan pencarian sejak hari pertama Haikal dilaporkan hilang. Masyarakat menyisir sejumlah lokasi di sekitar persawahan dan aliran sungai dengan harapan korban dapat segera ditemukan. Namun, upaya awal tersebut belum membuahkan hasil sehingga bantuan Basarnas diminta untuk memperkuat pencarian dan mendukung penanganan kejadian tersebut secara lebih terkoordinasi.
Operasi SAR kali ini melibatkan sedikitnya 57 personel gabungan dari berbagai unsur. Kekuatan tersebut terdiri atas sembilan anggota Pos SAR Pasaman, enam personel BPBD Kabupaten Pasaman, masing-masing satu personel Bhabinkamtibmas dan Babinsa, serta sekitar 40 warga setempat. Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam operasi karena warga lebih mengenal kondisi lingkungan dan akses menuju sejumlah titik di sekitar kawasan sungai.
Untuk mendukung kelancaran operasi, tim juga menyiapkan ambulans, kendaraan operasional, peralatan SAR air, perlengkapan medis, perangkat komunikasi, serta peralatan mountaineering. Seluruh sarana tersebut digunakan sesuai kebutuhan personel selama melakukan penyisiran di lapangan. Pemanfaatan berbagai perlengkapan diharapkan dapat membantu petugas menjangkau area pencarian dengan tetap memperhatikan keselamatan selama operasi berlangsung.
Namun, tim menghadapi kendala berupa tidak tersedianya jaringan komunikasi di kawasan pencarian. Kondisi tersebut dapat menyulitkan koordinasi antarpersonel, terutama ketika anggota tim berada di sektor yang berbeda. Karena itu, pengaturan pergerakan personel dan komunikasi lapangan menjadi hal yang perlu diperhatikan agar pencarian dapat berjalan efektif. Sementara itu, cuaca selama operasi pada Rabu dilaporkan cerah berawan.
Belum ditemukannya Haikal hingga hari keempat membuat pencarian akan terus menjadi perhatian tim gabungan dan masyarakat setempat. Operasi lanjutan pada Kamis dijadwalkan menjadi kesempatan untuk kembali memeriksa area yang telah disisir sekaligus memperluas pencarian berdasarkan hasil evaluasi. Keluarga korban masih menanti kabar, sementara petugas dan warga berharap upaya bersama tersebut dapat segera memberikan titik terang atas hilangnya balita itu.
#Andalusia




Tidak ada komentar:
Posting Komentar